Monday, 15 February 2016

GUNUNG SUMBING, HARD TO REACH

Desember 2015 bertepatan dengan libur Maulid dan Natal kami sekeluarga merencanakan liburan dengan mendaki gunung di Jawa Tengah. rencana Awal adalah mendaki Gunung Merapi dan Merbabu. Namun mengingat waktu liburan yang hanya 4 hari yaitu 24, 25,26 dan 27 Desember 2015 maka tujuan pendakian diubah menjadi ke Gunung Sundoro dan Sumbing.

Rencana awal adalah berangkat tanggal 23 Desember 2015 sore hari, namun si Sulung jauh-jauh hari siudah menyampaikan bahwa tanggal tersebut ia akan bekerja hingga malam hari. Dengan demikian terpaksa jadwal keberangkatan diundur menjadi tanggal 24 desember 2015 pagi hari. Karena jadwal diundur sehari maka rencana pendakianpun diubah menjadi hanya mendaki satu gunung saja yaitu gunung Sumbing.

Tanggal 24 desember 2015
Jam 08:30 kami berangkat menuju Wonosobo dari rumah. Dari sini perjuangan berat mendaki gunung Sumbing langsung dimulai. 10 menit keluar dari rumah langsung dihadang kemacetan parah di jalan raya DI Panjaitan Kebon Nanas, jakarta Timur. Cek di google maps kemacetan terjadi hingga cawang dan ruas tol Jakarta - Cikampek. Akhirnya diputuskan untuk masuk tol di pintu tol Pondok-Gede.

Ternyata kondisi jalan tol hari itu benar-benar macet parah, nyaris berhenti. Kondisi kemacetan ini sudah terjadi dari sore, hari sebelumnya. Akhirnya kami keluar di pinttu tol Jatibening yang ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam untuk jarak yang hanya sekitar 3,6 km. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan blusukan lewat jalan Cikunir Raya, Jatiasih, narogong, Mustika Jaya dan tembus di Kali Malang Bekasi Timur. Karena kondisi jalan tol masih macet perjalan selanjutnya adalah menyusuri kali Malang hingga Tambun dan masuk tol di gerbang Tambun. Ternyata kondisi jalan tol masih macet hingga Karawang, Setelah itu lancar. Kemacetan terjadi lagi di Gerbang Cipali dan gerbang Plumbon yang masing-masing antrian ditempuh selama 1,5 jam Setelah itu antrian terjadi lagi di tiap gerbang keluar tol. Info google maps antrian di gerbang pejagan macet hingga 2 jam, maka kami keluar di gate Kanci.

25 Desember 2015
Perjuangan menuju Wonosobo belum berakhir. Saat melintas jalan Pekalongan Banjarnegara, kami beriringan dengan kontainer-kontainer pengangkut peralatan pembangkit listrik geothermal tujuan Dieng. Berhubung jalan sempit berliku, naik turun maka sulit sekali mendahului kontainer-kontainer tersebut sehingga harus beriringan. Kami Tiba di Wonosobo jam 02:30 total perjalanan ke Wonosobo 18 jam yang biasanya hany ditempuh hanya sekitar 8 jam.

Di Wonosobo perjuangan juga belum berakhir. Hotel yang telah kami pesan jauh-jauh hari ternyata penuh. Meskipun kami protes keras dan marah-marah tretap saja tidak bisa mengubah keaadan karena semua kamar penuh. Karena lelah kami putuskan istirahat di sebuah mushalah SPBU di Wonosobo. Di sana cukup banyak musafir yang juga sedang istirahat.

Jam 8 pagi akhirnya kami masuk hotel dan beristirahat. Setelah Shalat jumat kami berwisata ke Kawasan Wisata Dieng, Obyek pertama yang kami kunjungi adalah Telaga Menjer. Setelah puas di danau Menjer kami bermaksud mengunjungi obyek lain di Kawasan Wisata Dieng. Namun karena jalan menuju Kawasan Wisata Dieng macet parah ber jam-jam dan hari sudah menjelang magrib, maka kami putuskan kembali ke hotel untuk menyiapkan tenaga buat perjalanan esok Hari mendaki Gunung Sumbing.

26 Desember 2015
Jam 08:30  kami meninggalkan hotel menuju pos Basecamp Pendakian Gunung Sumbing di Desa Gerung. (1407 m dpl 7°21'0.55"S 110° 1'42.82"E). Di Basecamp tersedia beberapa 4 buah toilet, kios makanan dan pos pendaftaran. Pada saat itu kondisi Basecamp sangat ramai dan toilet harus mengantri. Untuk pendakian ke Gunung Sumbing rute Gerung tidak ada sumber air diperjalanan. Jadi sebaiknya semua perbekalan disiapkan mulai dari sini.


Foto Pos I
 Setelah melakukan pendaftaran kami menuju POS I (Malim) (1909 m dpl   7°21'44.26"S 110° 2'58.21"E) dengan menggunakan ojek Tarif ojek adalah Rp 25.000. waktu yang ditempuh dengan ojeg sekitar 15 menit. Cukup  signifikan menghemat tenaga dan waktu. Karena jika harus berjalan kaki maka waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 2,5 hingga 3 jam.  Kami sarankan untuk menggunakan ojeg tersebut. Kami mendaki bertiga yaitu saya, si bungsu dan putri kami sedangkan si Sulung dan Istri kembali ke hotel.
Foto Pangkalan Ojeg Pos I
Foto Medan Posi I ke Pos II 

Di Pos I ini terdapat kios dan toilet serta Saung untuk Tempat Istirahat. Kami mulai pendakian dari Pos I jam 09:30 dan tiba di Pos II (GENUS) jam 11:43. (  7°22'0.58"S 110° 3'24.77"E altitude 2254 m dpl) Track Pos I ke Pos II melalui hutan dan terus menanjak tanpa bonus. Kondisi jalur relatif jelas.
Foto Pos II Genus
Jam 12:46 kami melewati Engkol-engkolan. dari sini ke Pos III  (7°22'9.08"S 110° 3'33.73"E altitude 2447 m dpl)  jalan semakin curam hingga seringkali kami harus merangkak untuk mendaki. 
Foto Engkol-engkolan

Kami tiba di POS III jam 14:35. Para pendaki sebagian sudah mulai mendirikan tenda di sini. POS III ini cukup ideal untuk mendirikan tenda karena banyak pohon besar sehingga cukup terlindung dari angin kencang yang sering bertiup di gunung Sumbing. Namun sayangnya POS III letaknya masih cukup jauh dari Puncak. Cukup lama kami istirahat di sini sekitar 20 menit.
Foto Pos III

Karena Puncak masih jauh maka kami putuskan untuk melanjutkan pendakian. Di Ketinggian 2520 m dpl si Bungsu sedikit Pusing. Maka kami putuskan untuk istirahat dan masak air untuk menyeduh teh dan Pop Mie. Setelah makan dan minum teh serta minum obat kondisi si Bungsu mulai membaik. Di sini sebagian pendaki ada juga yang mendirikan tenda. Akhirnya kami mulai melanjutkan pendakian kembali.

Sekitar pukul 18;19 kami tiba Camp Ground (  7°22'15.37"S 110° 3'38.70"E). Tempat ini berupa pelataran datar dan terbuka pada ketinggian 2552 m dpl. Tempat ini dapat menampung puluhan tenda. Pada saat kami tiba sudah puluhan tenda yang berdiri. Info dari rekan-rekan pendaki yang sudah mendirikan tenda disini adalah lokasi ini adalah POS IV PESTAN (Pekan Setan). POS Pestan ini memang target kami untuk mendirikan tenda. Belakangan kami ketahui bahwa ternyata info tersebut tidak benar. Pestan ternyata masih naik lagi ke atas sekitar 50 m.  Karena hari sudah menjelang senja dan kami pikir lokasi camping ground ini adalah Pos Pestan, maka kami mendirikan tenda di sini. Di lokasi ini pemandangan sangat indah. kebetulan saat itu menjelang matahari terbenam. Si Bungsu dan si Putri sibuk Berfoto Ria dengan latar belakang gunung Sundoro dan sunset. Kami shalat Zuhur dan ashar di sini

Udara malam hari di Camping ground ini sangat dingin dan angin bertiup sangat kencang. Tenda kami rasanya seperti dipukul-pukul oleh terjangan angin kencang. Ada sebagian tenda yang rubuh diterjang angin malam itu.Sayangnya kami kurang dapat beristirahat disini karena banyak rekan-rekan pendaki di tenda lain yang tetap ngobrol dan sebagian bernyanyi-nyanyi hingga tengah malam. 
Malam ini si Putri kedatangan tamu bulanannya. Jadi kami putuskan untuk esok hari pendakian akan dilanjutkan beerdua saja dengan si Bungsu, sedangkan si putri akan menunggu di tenda.

27 Desember 2015
Pukul 02:00 sebagian pendaki sudah bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Mereka mulai sarapan dan berangkat sekitar pukul 03:00. Mereka bermaksud mendapatkan sunrise di puncak gunung Sumbing. Kami sendiri mulai masak sarapan jam 04:30 dengan menu teh dan Pop mie lagi. (hehehe.) Setelah shalat subuh di tenda kami berdua melanjutkan pendakian pukul 05:00. Setelah berjalan beberapa menit kami telah melewati Pos IV/Pestan (  7°22'17.78"S 110° 3'42.39"E altitude 2600 m dpl). Di Pos Pestan cukup banyak tenda berdiri namun tidak sebanyak di camping ground. Tempat ini pun cukup terbuka. 
 
Foto Pestan jauh di atas awan

Pukul 07:18 kami berdua tiba di pos Pasar Watu (  7°22'27.09"S 110° 3'58.06"E altitude 2820 m dpl). Pos ini dinamakan demikian mungkin karena banyak batu-batu besar disini. Perjalanan selanjutnya semakin berat. terdapat beberapa jalur yang sebelah kanan tebing dan sisi kiri nya jurang. Perlu ekstra hati-hati di sini.

 
Track to Pasar Watu

Pukul 08;15 kami telah tiba di ketinggian 2900 m dpl. Di titik ini saya mulai berhitung waktu. Usia saya yang hampir setengah abad sangat mempengaruhi kondisi perjalanan hingga kami berjalan sangat lambat. Dengan sisa ketinggian 400 m lagi yang harus ditempuh dengan medan yang makin terjal, maka kami memperhitungkan sekitar jam 11 sampai jam 12 siang baru tiba di puncak. Jika dilanjutkan maka perkiraan kami akan tiba kembali di base camp sekitar jam 21;00 atau jam 22:00. Padahal esok harinya saya dan anak sulung saya harus kembali bekerja. Maka perkiraan tiba di Jakarta adalah siang hari mengingat kondisi lalu lintas diperkirakan padat karena arus balik setelah libur 4 hari.
Foto Pasar Watu

Akhirnya kami putuskan tidak melanjutkan perjalanan ke Puncak dan kembali ke Camping Ground.. Pada perjalanan turun ini perjuangan baru muncul. Problem timbul pada kedua kaki yaitu jari kelingking yang mulai lecet. Sedangkan pada si Bungsu problem pada jari jempol ke dua kakinya yang juga mulai lecet.

Sampai di camping ground kami beristirahat dan sempat tidur sebentar. Namun kali ini udara terasa panas. Makan siang kali ini kami dapat bantuan dari tetangga tenda kami dengan menu nasi dan sosis goreng dan tambahan abon yang kami bawa. Kami juga memberikan mereka abon yang masih ada di kami. menu yang cukup mewah untuk kondisi di gunung. Sayangnya nasinya kurang tanak. Maklum yang masak laki-laki semua Hahahaha.

Selesai makan siang kami bersekan tenda dan mulai turun gunung. Kali ini saya menggunakan sandal sedangkan si Bungsu tetap menggunakan sepatunya. Di tengah perjalanan sandal saya jebol dan harus berganti sandal lainnya. Ternyata sandal ini justru menyebabkan kedua tumit dan jempol kaki saya melepuh. Sehingga akhirnya saya menggunakan sepatu lagi. Kondisi jempol kaki si Bungsu juga semakin parah, sehingga kami berjalan semakin lambat saja. Beberapa hari kemudian setelah tiba di rumah kuku jempol kaki anak saya ini lepas karena kulit di bawah kuku tersebut melepuh. Kami bersyukur tidak melanjutkan pendakian hingga puncak, karena jika dilanjutkan mungkin cedera pada kaki kami akan lebih parah. Di balik keputusan tersebut ternyata ada hikmahnya.

Akhirnya kami tiba di POS I pukul 15:39. Kami langsung melanjutkan perjalan ke base camp dengan menggunakan ojeg. Setelah melaporkan kedatangan kami, dibest camp kami lanjutkan perjalanan ke SPBU tempat kami istirahat pada saat kami tiba di Wonosobo. Kami mandi dan berganti pakaian disini mengingat, karena jika dilakukan di base camp terlalu lama menunggu antrian. Sekitar pukul 18;00 kami start kembali ka Jakarta. Seperti diperkirakan sebelumnya kondisi jalan cukup padat. Kami tiba kembali di rumah pukul 08:00 pagi.

Untuk peta rute pendakian gunung Sumbing Rute Desa Gerung Wonosobo  lengkap dengan kordinatnya dapat melihat di link berikut Peta Rute pendakian Gunung sumbing Via Desa gerung Wonosobo. Silahkan download file kmz tersebut dan buka dengan google earth.

No comments:

Post a Comment

nnpz','_tapgmz');